Alasan Warga Mlangi Cegat Pelari Running UNISA 2018 - Portal Sumut

Sabtu, 05 Mei 2018

Alasan Warga Mlangi Cegat Pelari Running UNISA 2018

Video rombongan pelari perempuan dalam acara "Running UNISA 2018" dihadang sejumlah orang viral di media sosial tersebar dan menjadi banhan perbincangan di media sosial. Dalam video yang berdurasi 49 detik, pencegatan tersebut  terjadi ketika memasuki salah satu perkampungan Mlangi, Kelurahan Nogotirto Kecamatan Gamping, Sleman, yang merupakan salah satu rute lomba lari "Running UNISA 2018".
Camat Gamping Abu Bakar menanggapi rekaman video viral tersebut. Menurut dia, Mlangi  merupakan daerah pusat pondok pesantren. Di kampung tersebut juga ada aturan lokal dimana berpakaian harus sopan dan menutup aurat. Abu Bakar sendiri berpendapat bila pihak panitia lomba lari tidak memahami aturan lokal tersebut.  "Harusnya panitia paham kalau Mlangi itu pusatnya pesantren, banyak santri yang belajar di sana. Mlangi juga ada aturan lokal, terkait berpakaian yang sopan dan menutup aurat," tegasnya, Sabtu (5/5/2018). Namun, Abu Bakar menyatakan pihaknya akan selalu mendukung bila ke depan akan ada kegiatan pesta olahraga yang melintasi kawasannya seperti lomba lari. Asalkan, ada koordinasi dengan desa dan kecamatan yang dilewati.
"Saya dukung kalau ada lomba marathon (lagi) karena di Gamping banyak lokasi bagus. Tentu sebelumnya (panitia harus) koordinasi dengan Kades dan Camat serta Muspika. Penyelenggara juga harus menghormati aturan setempat," urainya.
Untuk diketahui, kegiatan "Running UNISA 2018" digelar pada hari Selasa (1/5/2018). Kegiatan itu merupakan rangkaian Milad ke-27 Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang diikuti sebanyak 1000 lebih peserta lari. Beberapa peserta berasal dari Indonesia maupun luar negeri. Seluruh rute yang dilintasi peserta dalam Running UNISA 2018 dibawah supervisi dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DIY. Rute lomba lari tersebut ada yang melewati kampung, salah satunya ke Mlangi, Kelurahan Nogotirto Kecamatan Gamping, Sleman.
Camat Gamping Abu Bakar menanggapi rekaman video viral tersebut. Menurut dia, Mlangi  merupakan daerah pusat pondok pesantren. Di kampung tersebut juga ada aturan lokal dimana berpakaian harus sopan dan menutup aurat. Abu Bakar sendiri berpendapat bila pihak panitia lomba lari tidak memahami aturan lokal tersebut.  "Harusnya panitia paham kalau Mlangi itu pusatnya pesantren, banyak santri yang belajar di sana. Mlangi juga ada aturan lokal, terkait berpakaian yang sopan dan menutup aurat," tegasnya, Sabtu (5/5/2018). Namun, Abu Bakar menyatakan pihaknya akan selalu mendukung bila ke depan akan ada kegiatan pesta olahraga yang melintasi kawasannya seperti lomba lari. Asalkan, ada koordinasi dengan desa dan kecamatan yang dilewati.
"Saya dukung kalau ada lomba marathon (lagi) karena di Gamping banyak lokasi bagus. Tentu sebelumnya (panitia harus) koordinasi dengan Kades dan Camat serta Muspika. Penyelenggara juga harus menghormati aturan setempat," urainya.
Ketua Milad UNISA ke 27 sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Ruhiyana mengungkapkan, perizinan kegiatan Running UNISA 2018 sudah sesuai prosedur, sementara rute lomba lari berada dibawah supervisi PASI DIY.  "Event ini rencananya akan digelar tahunan. Tahun depan ada rencana untuk mengelar 10K," ujarnya. Insiden ini sendiri telah diselesaikan dengan kekeluargaan. Ruhiyana mengatakan, oknum warga melakukan hal tersebut untuk memperingatkan. Menurut mereka, pelari menggunakan pakaian yang tidak layak. Para pelari mengenakan hotpant.Sebelumnya, beberapa pelari yang mengalami insiden tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan lomba hingga garis finis. Mereka tidak ingin insiden tersebut kembali terjadi dan menganggu jalanya acara.
"Panitia menghubungi pelari dan menyampaikan permintaan maaf. Mereka juga memutuskan ambil jalan lain, tidak masuk ke kampus (finis) agar tidak menambah masalah, dan mereka meminta maaf ke panitia telah menyebabkan insiden, jadi dengan pelari kita sudah clear," ucap Ruhiyana. Panitia juga sudah berkoordinasi dengan perangkat desa. Disampaikan jika yang dipermasalahkan adalah mengenai pakaian. "Kami sudah berbicara dengan pak dukuh, waktu itu disampaikan bahwa terkait dengan busana. Nah sementara ini kegiatan standar PASI dan untuk umum, jadi teman-teman pelari ya berbusana sesuai kenyamanan mereka," urainya. Dia mengatakan, masalah itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak pelari sudah tidak mempermasalahkan insiden tersebut. "Insiden ini sudah selesai dan tidak ada masalah lagi," kata dia. Sinta Maharani, kepala Humas UNISA meminta agar masyarakat tidak menyebarkan video terkait insiden tersebut, sebab masalahnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan. "Masalah kemarin sudah clear, kami mengimbau agar tidak menyebarkan video itu dan jangan dimanfaatkan," kata dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar